Rabu, 30 Juni 2010

Cerita Asal Usul Danau Toba

Danau TobaCerita Asal Usul Danau Toba ~ Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian.

Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan.

“Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.

“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri.

Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut.

“Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani.

“Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri.

Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya.

“Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu.

Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. 

Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan!”, umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras.

Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

SUMBER : ICT WATCH BY= KING ALIBABA

Baca Selanjutnya »»»»

Selasa, 29 Juni 2010

Mengintip Rumah Adat Gayo yang Terlupakan

Rumah Adat GayoMengintip Rumah Adat Gayo yang Terlupakan – Aceh banyak meninggalkan tentang sejarah kebudayaan salah satunya Rumah adat Tujuh Ruang atau yang disebutkan dalam bahasa Aceh Umah Edet Pitu Ruang. Namun sekarng sudah sangat terlupakan, ada sebuah artikel dari Oleh Zulkarnain tentang Peninggalan Sejarah orang gayo.

UMAH Edet Pitu Ruang (Rumah Adat Tujuh Ruang) Peninggalan Reje Belantara di Kampung Toweren, Kecamatan Laut Tawar Aceh Tengah tidak terurus dan telah lapuk, padahal, rumah itu adalah bukti sejarah orang Gayo, tetapi tidak ada yang peduli dengan dengan peninggalan sejarah tersebut.

Rumah tua bukti sejarah orang Gayo tersebut letaknya di sebuah kampung pinggiran Danau Lut Tawar siapa saja boleh melihatnya, tetapi rumah tesebut warnanya mulai pudar bahkan nyaris hilang dimakan waktu.

Umah Edet Pitu Ruang (Rumah Adat Tujuh Ruang) tersebut seakan akan tidak ada yang perduli, padahal rumah itu adalah bukti sejarah yang masih ada di Dataran Tinggi Gayo yang benar-benar asli peninggalan tidak seperti rumah adat di Linge dan Mess Pitu Ruang di Kampung Kemili Takengon yang hanya copyan dari bentuk aslinya.
Rumah Pitu Ruang tersebut milik Reje Baluntara yang nama aslinya Jalaluddin sudah berdiri sejak pra kemerdekaan. Tetapi tidak ada perhatian dari pemda setempat yang serius untuk merawatnya.

Beberapa bagian lantai rumah adat tersebut sudah mulai lapuk. Begitu juga dengan 27 tiang penyangga dari kayu pilihan dan diukir dengan pahatan kerawang Gayo sudah mulai bergeser dan tidak lagi tegak lurus. Beberapa batu gunung dipakai sebagai alas tiang utama agar posisi rumah tetap stabil.

Beberapa sumber yang di temui Harian Aceh mengatakan, Rumah adat Umah Pitu Ruang Toweren memang dibuat dari kayu pilihan. Diameter tiang penyangganya pun seukuran dekapan dewasa. Tidak diketahui tahun berapa rumah itu dibangun, tetapi menurut cerita bangunannya sudah berdiri sebelum kolonial Belanda masuk ke Dataran Tinggi Gayo.

Luas Umah Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12 meter. Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap utara. Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar, ada dua lepo atau ruang bebas di arah timur dan barat.

Semua sambungan memakai ciri khas tersendiri menggunakan pasak kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang dipahat, dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah ukiran kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan.

Sementara ukiran naga merupakan lambang kekuatan, kekuasaan dan kharisma. Peninggalan Raja Baluntara, bukan hanya bangunan tua yang bertengger usang di Kampung Toweren Uken, tetapi aset bersejarah lain masih tersimpan rapi oleh pihak keluarga seperti Bawar. Bawar adalah sebuah tanda kerajaan yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada Raja Baluntara.

Selain Bawar yang masih disimpan oleh keluarga keturunan raja itu, ada piring, pedang, cerka dan sejumlah barang peninggalan yang sangat bersejarah. Di belakang rumah adat tersebut dahulunya ada rumah dapur di bagian Selatan yang ukurannya sama dengan ruang utama yang berukuran 9 x 12. Ruangan dimaksud telah hancur. Selain itu, juga ada mersah, kolam dan roda, alat penumbuk padi dengan kekuatan air yang semuanya juga sudah musnah.

Reje Baluntara merupakan seorang raja yang juga mengusai kawasan hutan sehingga disebut sebagai Reje Baluntara (raja belantara- red). Menurut cerita yang berkembang foto Reje Baluntara, ditemukan oleh salah seorang keluarga Reje Baluntara yang bekerja di Jakarta, almarhum Reje Amat Banta.

Dalam sebuah kesempatan ke Belanda, Reje Amat Banta menemukan foto Reje Baluntara yang dibuat oleh Belanda, kemudian dibawa pulang ke Takengon, kemudian dibuat lukisannya sesuai foto aslinya.

Sekeliling rumah pitu ruang tersebut pada tahun 1990 dubuat pagar kawat oleh Suaka Sejarah dan Peninggalan Purbakala Banda Aceh tahun, kini rumah itu tidak lagi di tempati oleh keluarga reje baluntara.

Tanpa Mengunakan Paku

Rumah adat Pitu Ruang Gayo tersebut tidak mengunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu dan bermacam-macam ukiran di setiap kayu. Ukiran tersebut bentuk nya berbeda-beda, ada yang berbentuk hewan dan ada yang berbetuk seni kerawang Gayo yang di pahat khusus.

Walaupun tidak mengunakan paku tapi kekuatan rumah adat pitu ruang tersebut sangatlah kuat apalagi bahan kayu yang sangat bermutu pada zaman duhulu, tetapi bagaimana pun kuatnya tanpa adanya perawatan bangunan tersebut akan roboh dengan sendirinya di makan zaman.

Tempat Wisata

Rumah sejarah orang Gayo tersebut sangatlah bagus di jadikan tempat, dengan tidak terurus saja banyak yang datang untuk melihat lihat, apalagi kalau sudah di rawat pasti banyak lagi wisatawan lokal atau mancanegara yang datang.

Letak rumah pitu ruang tersebut tidak jauh dengan tempat wisata Loyang Koro yang banyak di datanggi oleh wisatawan. Dengan di rawatnya rumah pitu ruang tersebut dan di jadikan tempat wisata pasti akan menjadikan penamahan PAD bagi daerah setempat

Baca Selanjutnya »»»»